Senin, 24 Juli 2023

Last Hope for Last Love Jilid IV : Selalu Ada


 

Last Hope for Last Love Jilid IV : Selalu Ada 

 Kata Pengantar 

Segala puji penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya lah saya sebagai penulis dapat menyelesaikan penyusunan cerpen  “ Last Hope for Last Love Jilid 4 : Selalu Ada “. Namun sebagai manusia biasa, saya tak luput dari kesalahan ataupun kekhilafan baik pada teknik penulisan maupun pemilihan kata. Saya menyadari bahwa tanpa arahan dan masukan-masukan dari berbagai pihak yang telah membantu, mungkin saya tidak bisa menyelesaikan cerpen ini tepat waktu. Cerpen ini dibuat sedemikian rupa hanya sebagai inspirasi kepada anak muda Indonesia untuk selalu memanfaatkan kesempatan berkarya dan berinovasi selagi muda, terlebih khusus karya tulis. Maka dengan kerendahan hati, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam proses penyelesaian cerpen, termasuk sosok-sosok dibalik cerpen ini.
Semoga karya tulis ini dapat menghibur dan mudah dipahami bagi para pembaca



Pontianak, 25 Juli 2023



Penulis


Selalu Ada

Cipt. Hanin Dhiya

(OST. Last Hope for Last  Love Jilid IV : Selalu Ada )


Aku pun tak mengerti
Apa yang aku mau
Ada rasa yang hilang
Pergi meninggalkan ruang hatiku
Hadapi kenyataan
Kau memang bukan milikku
Namun di dalam hati
Kau terus hidup dan selalu ada

Aku ingin mencoba
Untuk lupakan dia
Agar tiada penyesalan dalam hatiku

Biarkan semua ini
Menjadi bagian hidupku
Tiada pernah kusesali
Dalam hatiku


Intro

Akhirnya aku kembali, setelah sekian lama hilang tanpa karya. Melewati tahun demi tahun dengan berbagai kisah, kini baru dapat aku torehkan kembali. Tahun lalu adalah masa-masa yang sulit untuk aku hadapi. Berbagai cobaan dan rintangan datang silih berganti. Terjebak dalam kesibukan dan kesenangan, membuat aku lupa bahwa ada hal yang harus lebih diperjuangkan. Aku senang disadarkan kembali untuk menari dengan huruf-huruf pada papan ketik ponsel. Tiga jilid sebelumnya telah berhasil dibuat dengan penuh motivasi atas berbagai kisah dalam merajut asmara. Semuanya sebagai bukti bahwa menemukan sebuah kisah cinta yang sempurna butuh perjuangan luar biasa. Meyakinkan atau diyakinkan oleh rasa dan waktu yang tepat, sungguh sulit terwujud. Namun, tahun lalu adalah masa yang luar biasa untuk dikenang dan diulang. Tuhan memberikan ku jawaban bahwa Dia selalu ada buat hamba-Nya yang selalu tabah. Memang aku dihancurkan oleh banyak harapan, tapi disemangati oleh idola dan khayalan.

Selalu Ada


Selalu Ada, Tapi Sesaat Saja


Aku telah rapuh dimakan oleh rayap kenyataan hingga memilih untuk sendiri. Sebuah pesan singkat masuk membalas cerita sosial media. Dia sepertinya sudah sangat menunggu kelanjutan cerita picisan yang aku buat. Aku pun menyarankan untuk membaca lebih dulu karya-karya sebelumnya, agar lebih memahami alur cerita. Namanya Linda, seorang wanita yang sedang menempuh pendidikan universitas Islam di Palembang. Dia adalah teman dekat Farah saat masa-masa awal perkuliahan. Linda membacanya dengan saksama, penuh penghayatan dan penalaran yang tinggi tampaknya.

Setelah membaca semuanya, Linda memberiku sedikit nasihat yang intinya jangan pernah mencintai seseorang secara berlebihan. Memang benar, segala sesuatu yang berlebihan tidak lah baik, apalagi dipaksakan. Karena sejatinya setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tak ada yang abadi. Sudut pandang masing - masing individu juga membuatnya berakhir,  baik atau buruk terrgantung cara menyikapi hikmah dibalik itu semua. 

Memang salahku juga. Kalau dia hanya mampir, harusnya diberi kopi bukan hati. Pertanyaan timbul dalam ruang bicara kami. Mengapa orang baik selalu gagal dalam percintaan ? Mungkin itu cara Tuhan agar hamba-Nya tidak mencintai sesuatu melebihi cinta kepada-Nya. Jika memang punya rasa, cukuplah disampaikan lewat doa. Bukan dengan setangkai bunga maupun sebatang coklat, sebab orang yang tepat akan datang di waktu yang tepat. 

Air susu dibalas dengan air tuba, pepatah lama namun memiliki makna hingga kini. Biarlah dia membalasnya dengan air tuba, rasa sakit memang susah untuk dilupa. Tapi dengan tetap berbuat baik, selalu ada jalan untuk dapat kebahagiaan dari arah lain. Itulah yang sempat dicurahkan oleh Linda, dia tak mau terngiang-ngiang akan masa lalunya lagi. Notifikasi sebelumnya tidak dapat ditolak, hingga tak mampu membendungnya masuk ke otak. 

Memblokir akses akun adalah jalan ninja untuk tidak mengingat mantan lagi. Hal itulah yang berusaha aku jelaskan untuk Linda, tergantung lagi bagaimana cara dia menyikapinya. Tidak bermaksud untuk menggurui dan menceramahi, aku hanya orang biasa yang ingin membantu memecahkan masalah. Senang rasanya bisa membantu kesulitan orang lain, walaupun terkadang masalah sendiri saja belum selesai.

Linda penasaran siapa sebenarnya sosok yang aku idolakan. Mulai dari Kak Pita dalam cerita picisan hingga Feby Putri pun menjadi jawaban kelirunya. Sebenarnya Feby Putri hampir tepat, karena dia juga penyanyi wanita yang usianya masih muda. Aku pun menjawabnya, dan akhirnya dia tahu siapa yang telah menjadi inspirasiku berkarya tulis. Yaitu Hanin Dhiya Citaningtyas, penyanyi dan penulis lagu asal Bogor. Dia tak melanjutkan rasa penasarannya lagi, topik tentang pekerjaan, pengalaman, berbagi cerita harian menjadi rentetan selanjutnya.

Namun seiring berjalannya waktu, seseorang yang tepat telah menghampiri kehidupan Linda. Awal September 2021 menjadi saat-saat terakhir sebelum dia menghilang tanpa kabar. Dia telah memiliki kekasih hati yang baru, tugasku sudah selesai. Senang rasanya pernah hadir di kehidupannya, meskipun tidak dalam hatinya.


Selalu Ada, Harapan Baru Pelipur Lara 

Sahabatku Ari, selalu mendorongku untuk memiliki kekasih hati. Mulai dari teman masa lampau hingga masa kini semua dia kenalkan. Namun dari sekian banyak yang dia perlihatkan, hanya satu yang membuatku terpikat, yaitu Aina sahabat sejatinya Farah. Entah mengapa aku tak bisa menutupinya, dia sangat spesial. Tanggal 13 Oktober 2021, aku menjatuhkan harap kepadanya, meskipun hanya sebatas suka. 

Rasa ingin tahu yang besar, membuatku bertanya banyak hal tentangnya kepada Farah. Dia telah menganggap Aina sebagai keluarga, lebih dari sekedar sahabat karena mereka pernah satu sekolah dan asrama. Aina sekarang telah bekerja sebagai pelayanan konsumen salah satu moda transportasi umum. Kemandirian sudah pasti melekat pada dirinya. Padahal dia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, bisa saja dia hanya duduk manis menikmati masa mudanya. Tapi itu tak berlaku buat Aina, dia sadar bahwa tak semua yang dia inginkan akan tercapai tanpa usaha sendiri. 

Sulit menerima kenyataan bahwa dia nun jauh di sana. Penuh dengan rasa optimis, aku yakin suatu saat nanti dia akan luluh seiring berjalannya waktu. Peran Farah sangatlah penting untuk prospek pendekatan ku buat Aina, namun semua balik lagi kepada dirinya sendiri. Aku mencoba mengikuti akun sosial media miliknya, namun permintaanku masih ditangguhkan. Mungkin karena belum pernah bertemu, aku hanya bisa bersabar dan terus bersabar.

Terus ku panjatkan doa dengan penuh harap, bisa bertemu dan menjadi bagian dari kisah hidupnya. Masih menjadi tanda tanya apakah suatu saat tanah Sriwijaya akan menjadi rumah ketiga untukku. Harus diakui dari sekian wanita yang aku suka bahkan cinta, dia wanita paling cantik soal fisik. Namun soal akhlak, dia masih belajar persis seperti diriku. Kelebihan maupun kekurangan adalah hal lumrah yang melekat dalam diri manusia. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan dengan akal yang sempurna, alangkah baik untuk memaklumi kekurangan orang lain dan berusaha menutupinya. Begitu juga dengan kelebihan, alangkah baik untuk dibuka ketika banyak yang merendahkan. 

Memulai semangat baru di tahun yang baru, berharap selalu diberikan jalan atas segala harap. Perjalanan menuju diri yang lebih baik dari sebelumnya, terus digaungkan dalam pikiran. Sahabat menjadi salah satu tempat terbaik untuk mencurahkan segala opini yang berkelit. Terutama Wawan dan Ari, yang masih sangat mudah dijangkau karena tinggal satu kota. Namun adikku sendiri lah yang menjadi pendengar pertama tentang harapku di tahun 2022 ini. 

Kala itu aku sedang menunggangi kuda besi dengannya pulang dari masjid. Nazar menceritakan banyak hal tentang keinginannya, sedangkan aku hanya bisa tersenyum dan melontarkan kata-kata singkat. 
" Abang yakin tahun ini ade sesuatu yang berbede dari tahun sebelumnye ", itulah kalimat yang tak sengaja terucap dari bibirku. Dan ternyata itu bukanlah sebuah ucapan belaka, melainkan doa yang mengawali semua mimpi indah. Akhir Januari 2022, untuk pertama kalinya aku dan Ari pergi keluar kota dengan sepeda motor. Padahal baru saja kerja masuk malam, pagi harinya aku langsung tancap gas dari Pontianak ke Tayan. Dengan jarak 113 kilometer, butuh waktu dua jam lebih untuk sampai ke tujuan. 

Untuk mengatasi kantuk saat berkendara, kami pun selalu memulai pembicaraan yang berujung pada candaan. Lebih-lebih saat melihat banyaknya rumah makan yang menjual bipang alias babi panggang sekitar daerah Ambawang, candaan Ari sungguh menggelitik perut ku. Lika-liku naik-turun perjalanan pun tak terasa, namun motor sepertinya perlu beristirahat sejenak. Kami pun turun untuk membeli camilan penunda lapar dan dahaga. 

Tidak hanya sekedar jalan-jalan, Ari juga sambil melebarkan sayap bisnisnya. Dengan bertambahnya relasi dia berharap bertambah pula rezeki dan peluang untuk berkembang. Secara tidak langsung Ari mengajarkanku untuk lebih bersosialisasi, menerima berbagai sudut pandang orang namun tetap menjadi diri sendiri. 

Setelah sampai ke tujuan, kami bertemu dengan teman satu SMK dulu bernama Cici. Dia mengajak kami makan siang bersama lalu menunjukkan tempat yang bagus untuk berfoto, salah satunya pemandangan jembatan Tayan yang menjadi jembatan terpanjang ketiga di Indonesia. Pertemuan yang sangat singkat, namun bermakna sangat lekat. Kami pun pamit untuk pulang ke kota. Tapi sebelum itu, Ari mengajakku untuk singgah ke Danau Laet. Jalan tanah merah yang terjal, berliku, dan berlumpur membuat kami was-was mengendarai motor. Beruntung saja kami pergi tidak dalam keadaan hujan, jika iya mungkin kami memilih untuk balik arah daripada mengorbankan keselamatan.

Ada salah satu binatang yang mencuri perhatianku sepanjang jalan menuju Danau Laet. Mereka tak terlihat bergerombol, namun hampir setiap beberapa kilometer terlihat satu atau dua ekor. Mengeluarkan suara yang khas, namun aku tak berani untuk mendekat. Takutnya mereka lepas kendali, lalu rencana ke Danau Laet berantakan. Mau disebut namanya, takut mencaci maki. Tapi ya memang nama hewannya sendiri, babi hutan.

Pulang kerumah, aku langsung membersihkan diri untuk melapor kepada Tuhan. Esok hari masuk kerja pagi, tak aku tunda sedikitpun waktu merebahkan tubuh lalu tidur. Namun sebelum aku benar-benar tidur, selalu diiringi dengan doa dan harap. Semoga saja suatu saat nanti bisa bertemu dengan "dia" dan "Dhiya". 

Tanggal 4 Februari, teringat bahwa itu hari ulang tahun Aina. Dia yang nun jauh di sana, masih tanpa kabar karena permintaan mengikuti masih tertunda. Aku hanya bisa menghela nafas dan berusaha menghibur diri. Lagi-lagi Ari, tak pernah berhenti berusaha untuk memperkenalkan Aina kepadaku. Bahkan dia mengajakku untuk makan ayam geprek dengan suasana angka 4 ( jangan dipikirkan maksudnya apa hehehe... )

Tak lama setelah pertemuan dengan Ari, aku langsung jatuh sakit. Tenggorokan sakit, demam tinggi, dan batuk menyerang secara bersamaan. Pikiranku mulai berbelit, seakan berbisik jika aku terkena virus yang belakangan ini ramai dibincangkan. Sugesti itu berlangsung selama dua hari dua malam, hingga pada hari ketiga membawaku untuk pergi ke Puskesmas terdekat. Hasilnya cukup membuat jantung berdebar kencang, aku harus menjalani isolasi makan gorengan atau makanan yang mengandung banyak minyak. 

Menarik nafas dalam-dalam, aku patut bersyukur tergolong dalam kategori negatif terpapar, jika positif paling lambat diisolasi selama 14 hari. Seketika matematika keuangan dalam otakku langsung otomatis mengkalkulasi jumlah kerugian yang akan dialami. Begitu mirisnya, namun apa boleh buat. Tuhan Maha Baik, mungkin ini cara-Nya mengistirahatkan diriku agar tak terus menerus mengejar dunia. 

Selalu Ada, Mimpi Perlahan Jadi Nyata

Aku terkejut mendengar kabar bahwa Aina telah menolak lamaran dari seseorang yang diketahui adalah salah satu rekan kerjanya. Dari situ aku menyimpulkan bahwa wajar saja jika sebuah permata menjadi rebutan, bahkan bisa saling sikut satu sama lain. Tapi aku yakin Aina menolak bukan karena jabatan rekan kerjanya itu, melainkan karena dia belum siap untuk dihalalkan. Entah alasannya kenapa, mungkin saja masih ada impian yang tertunda atau belum terwujud. Aku enggan mengetahuinya lebih dalam, karena saling mengenal saja belum. 

Aku jenuh dengan penantian yang tidak pasti ini. Aku tak sengaja melihat cerita harian salah satu akun fanbase idola. Melihat sebuah baju dengan motif yang menurutku keren, membuatku ingin memesannya. Aku pun mengisi formulir pemesanan, kirim lalu menunggu pesanan itu datang. Setelah beberapa hari, pesanan tak kunjung datang. Lalu aku coba menghubungi contact person terkait untuk menanyakan kepastian pesananku. Ternyata sistem Pre-order bukanlah barang yang sudah siap kirim, melainkan agar pesanan lebih cepat untuk diproses saat peluncuran resminya. Aku baru tempe, hehehe...

Kabar baik datang tiba-tiba darinya. Setelah menunggu lebih dari 4 bulan, akhirnya pada tanggal 26 Februari 2022 Aina menerima permintaanku mengikuti akun media sosialnya. Itu seakan membuka pintu harapanku untuk hadir dalam hidupnya. Padahal beberapa menit sebelumnya aku sangat kecewa karena Manchester United ditahan imbang Watford di markas mereka sendiri Old Trafford. Tapi setelah notifikasi itu muncul, raut wajahku langsung berubah drastis. Aku pun langsung menceritakannya kepada Ari dengan penuh semangat dan bahagia. 

Aku pun sangat bersyukur bisa diberikan kesempatan kecil untuk mengenalnya. Dia cukup baik soal fisik, agama, dan bakat menyanyinya. Ini juga menjadi bahan bakar semangatku untuk menjalani hari-hari yang melelahkan. Farah juga tak menyangka bahwa Aina akan memberikan ku kesempatan untuk jauh mengenalnya. Dia pun mengatakan bahwa semuanya berkat kekuatan doa dan pengabulan dari Tuhan lah yang membukakan pintu hatinya. 

Disamping semua mimpi indah, aku juga berharap kenyataan yang indah. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya baju yang dipesan datang juga. Aku pun mengucapkan banyak terima kasih kepada contact person terkait, yang ternyata adalah salah satu senior Haninours ( sebutan untuk penggemar Hanin Dhiya ). Bang Pahu menyimpan kontak ku sehingga bisa melihat keseruan acara ulang tahun Haninours yang ke-7. Turut senang juga karena baju yang aku pesan dipakai Haninours dari seluruh Indonesia. Salam hangat pun aku layangkan kepada mereka lewat Bang Pahu.

Dalam pesan pribadi, Bang Pahu tak menyangka bahwa aku penggemar Hanin Dhiya dari tanah Khatulistiwa. Dia merasa begitu bersyukur dan berharap bisa bertemu denganku. Aku pun semakin yakin bahwa suatu saat nanti, penantian bertemu Hanin selama ini akan berakhir.

Selagi belum memiliki pasangan, sudah sepantasnya aku mencoba berbagai hal yang positif untuk selalu bahagia menjalani hidup. Awalnya aku ingin sekali menutupi dari Aina, bahwa aku adalah penggemar berat Hanin Dhiya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku sadar bahwa tak perlu ada yang dikhawatirkan. Aku hanya seorang penggemar, bukan berarti rasa cinta harus menyamar. Memang aku pernah jatuh hati, tapi tak sampai harus dibawa mati. 

Hal itulah yang mendorongku untuk ikut berpartisipasi dalam giveaway yang diadakan akun media sosial Haninours, dengan hadiah berupa cinderamata yang telah ditandatangani oleh Hanin. Selama tujuh tahun menjadi penggemar, ini jadi yang pertama untukku mengikuti kegiatan Haninours. Kegiatan kali ini diadakan sebagai bentuk rasa syukur, karena video musik lagu terbaru Hanin berjudul Love Language yang hampir tembus satu juta penonton. Adapun lagu berbahasa Inggris tersebut menceritakan tentang hubungan asmara yang tidak sehat alias toxic relationship.

Syarat-syarat telah dipenuhi dengan membagikan sesi terbaik dari video musik Love Language. Aku berharap Aina melihat cerita harian ku, agar dia tahu bahwa aku menyukai penyanyi wanita persis seperti dia. Namun setelah lama menunggu, dia tak kunjung terlintas untuk melihat. Ya sudah lah, perlahan tapi pasti dia akan tahu. Menurut penilaian ku, Aina adalah versi Hanin Dhiya yang paling mungkin untuk dimiliki. Karena sudah jelas dan pasti, level kehidupan Hanin jauh diatas aku maupun Aina. 

Empat hari berselang, pemenang giveaway pun diumumkan lewat cerita harian akun sosial media Haninours. Hasilnya, cerita milikku menjadi salah satu diantara delapan yang terpilih. Girang bukan main, selebrasi gol Cristiano Ronaldo pun mengikuti perasaan senang ku, Siuuu ! Hal inilah yang membuatku semakin ingin dekat dengan Haninours. Mereka sepertinya sangat senang jika aku berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Perasaanku untuk bertemu Hanin secara langsung mulai menggebu.

Bulan suci Ramadhan 1443 Hijriah, menjadi bulan yang paling membekas dalam ingatan. Malam tanggal 11 April 2022, aku pergi lebih awal ke tempat kerja untuk tidur sejenak setelah tarawih. Namun niatku untuk berbaring luntur ketika ponselku berdering, ternyata panggilan video dari Ari. Bukan hanya sekedar iseng, ternyata dia menawarkan untuk menyapa Aina lewat panggilan video. Awalnya aku malu, tapi keinginanku semakin kuat ketika Ari juga menghubungi Farah. Ternyata Farah, Aina dan kedua sahabat lainnya sedang berkumpul. 

Farah pun menyapaku dan langsung menyambungkan panggilan itu kepada Aina. Aku tersipu malu untuk memulai pembicaraan, wajah cantiknya membuatku terpana. Dia pun ikut malu dan mengalihkan lensa kamera depan ke langit-langit. Beberapa pertanyaan ringan dia tanyakan kepadaku, terutama soal pekerjaan. Salah tingkah, banyak jawabanku melantur kemana-mana. Aku pun meminta maaf karena rasa gugup yang mungkin berlebihan.

Momen panggilan video singkat itu diabadikan oleh Ari. Pipiku memerah tanda malu sudah tak terbendung, melihat Aina menutup senyumannya. Memang sebaiknya aku jangan terlalu sering melihat itu, karena manis yang berlebihan menyebabkan diabetes. Cukup arsip yang menyimpan salah satu kenangan manis mengenal wanita, tidak akan pernah diumbar. Karena dia telah menyinariku malam itu, bersama bulan dan bintang.

Ternyata Itu bukan satu-satunya momen yang bermakna. Sebagai tanda terima kasih atas hadiah yang diberikan, aku pun membuat video ucapan berdurasi sekitar 30 detik. Berbekal kamera ponsel di ruangan dengan pencahayaan seadanya, aku berulang kali mencoba berbicara dengan fasih. Karena bibirku terkadang kaku ketika gugup, melakukan sesuatu yang jarang atau tidak pernah sama sekali. 

Namun tekad sudah bulat, niat haruslah kuat. Akhirnya bagian terbaik pun aku dapatkan. Melihat para pemenang lainnya telah membagikan ucapan, aku pun terdorong untuk melakukannya. Akun sosial media Hanin, Haninours, dan label rekaman Hanin pun diikutsertakan dalam cerita harianku. 

Awalnya hanya akun sosial media Haninours yang membagikan ceritaku. Namun tak sampai disitu, ada satu momen yang menjadi paling bersejarah dalam hidupku. Setelah melaksanakan shalat tarawih, aku mendapatkan notifikasi biru tanda pesan masuk. Dan ternyata, itu pesan singkat dari Hanin Dhiya yang berbunyi,

"Asiiiikk! Makasi yaaa sehat selaluu kak zulfannn. Semoga someday bisa ketemu ya kitaa!"

Pesan singkat itu menjadi yang pertama kalinya setelah tujuh tahun lebih menjadi penggemar. Terasa sangat amat spesial mendapatkan pesan khusus dari akun centang biru, harapanku untuk Hanin Dhiya pun semakin besar. Bahkan semakin kuat pula doa dan harapanku untuk bisa bertemu dengannya untuk pertama kalinya juga.
 

Selalu Ada, Ragu dan Yakin Tentang Dia

Aku sempat panas dingin, ketika melihat Aina berfoto dengan seorang pria layaknya pasangan. Lantas Ari pun berasumsi bahwa ini adalah akhir dari perjuanganku mendapatkan Aina. Tapi tiba-tiba saja Farah memberitahuku lewat pesan singkat bahwa itu adalah sepupu Aina. Aku sedikit lega ketika berita itu datang, membawa angin segar dan harapan masih terbuka. Senang sekali ternyata Farah masih membuka jalanku untuk mendekati Aina. Padahal bisa saja dia menutupi status pria yang ada di cerita harian Aina itu.

Akhir Juni 2022, Ari mengatakan bahwa dia akan pulang ke Palembang untuk menghadiri acara wisuda Farah. Sehari sebelumnya, dia memintaku untuk menemaninya mencari oleh-oleh khas Khatulistiwa. Aku pun berniat ingin memberikan Aina buah tangan sebagai kesan pertama perkenalan. Aku juga ingin mengetahui, seberapa besar cara dia menghargai pemberian seseorang mulai dari sesuatu yang kecil.

Ku titipkan amanah itu kepada Ari, sembari menitip salam selamat untuk Farah atas keberhasilannya menyelesaikan pendidikan tingkat tinggi. Apalah daya aku yang masih dituntut oleh keluarga dan keadaan untuk bekerja, hampir tak ada harapan untuk melanjutkan pendidikan. Tapi hal itu tidak membuatku berhenti untuk meraih mimpi, menjadi seorang penulis yang bisa menginspirasi banyak orang. 

Momen-momen kebersamaan Ari dan Farah menghiasi beranda sosial media, mereka terlihat sangat cocok dengan setelan couple serba ungu. Jujur itu membuatku iri, penuh tanya dalam diri kapan aku bisa seperti itu. Memang itu sebuah kebutuhan suatu saat nanti, memiliki pasangan yang satu frekuensi. Tapi untuk sekarang semua itu hanya sebatas angan untukku. Aku harus terus memantaskan dan memantapkan diri sebelum bertemu tambatan hati.

Takdir memang sesuatu yang sudah digariskan oleh Tuhan sepenuhnya. Namun soal jodoh, adalah takdir yang harus diusahakan. Kalau kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, "Cinta tidak pernah meminta untuk menanti karena cinta hanya mengambil kesempatan atau tentang merelakan". Aku akan selalu mengulang itu dalam pikiranku. Karena yang terpenting adalah bagaimana aku bisa menguatkan iman sebagai pondasi terkuat dalam membangun rumah tangga yang baik.

Amanah telah disampaikan, aku pun turut berterimakasih kepada Ari dan Farah yang telah mengantarkan langsung ke rumah Aina. Dia sepertinya sangat senang dengan pemberianku, bahkan dia sampai membuat cerita harian sebagai tanda terima kasih. Ternyata, Aina adalah sosok yang sangat menghargai pemberian seseorang sekecil apapun. Keyakinan pun semakin besar untuk memperjuangkan Aina.

Selalu Ada, Hal Baru Tapi Lama

Ajang pencarian bakat menyanyi yang mengorbitkan Hanin Dhiya kembali menyita perhatianku. Pada awalnya, aku hanya mencoba mencari penampilan Hanin Dhiya saat masih berkompetisi di ajang tersebut. Tapi ada satu video yang menarik, yaitu saat Judika yang menjadi salah satu dewan juri nya, berduet apik dengan Shane Filan dengan lagu Flying Without Wings. Dinyanyikan dengan nada tinggi, membuat sorak penonton begitu riuh terdengar. Tentunya kesempatan yang langka bisa berduet dengan penyanyi sekelas Shane.

Shane Filan sendiri bukan nama yang asing bagiku, bahkan lagunya berjudul Beautiful In White sudah lama bersemayam di galeri musikku. Tapi bukan itu hal yang membuatku terkejut, melainkan aku baru tahu bahwa Shane adalah salah satu anggota boyband paling legendaris, Westlife. Aku baru mengetahuinya setelah melihat cuplikan dirinya menyanyikan lagu berjudul My Love di ajang tersebut, lalu tak sengaja melihat video klip aslinya.

Mulai saat itu aku semakin senang mendengarkan lagu-lagu dari Westlife. Ternyata, Shane Filan adalah vokalis utama boyband asal Republik Irlandia itu. Senang rasanya bisa mendengar suara khas dia saat masih muda dulu, jernih bagaikan kristal. Mark Feehily, Nicky Byrne, dan Kian Egan pun tak kalah keren suaranya. Setiap personil memiliki ciri khas suara masing-masing, namun ketika vokal dipadukan menjadi satu terasa tak ada perbedaan diantara mereka. 

Lagu-lagunya sangat mudah masuk kedalam gendang telinga dan menyelisik ke aliran darah menuju otak, terasa nyaman mengikuti alur iramanya dengan sedikit mengguncangkan badan dan menggoyang kepala. Lagu-lagu mereka tidak hanya menjamah generasi tahun 90an, bahkan juga menyinggung hati kaum milenial terutama kaum hawa. Kesan yang ditampilkan oleh mereka pun lebih menunjukkan kualitas suara dibandingkan gaya berpakaian, baik saat siaran langsung maupun rekaman studio.

Habislah Juni, terbitlah Juli. Tentunya ini bulan yang sangat spesial untukku dan Ari. Pasalnya kami berdua lahir di bulan yang sama, tanggal dan tahunnya saja berbeda. Untuk membuatnya semakin spesial, Ari memberiku tantangan baru untuk jatah makan bulanan. Tantangannya yaitu aku harus makan makanan khas Jepang dengan menggunakan sumpit, hanya yang mengandung kuah boleh memakai sendok. Memang benar kalau dipikir-pikir, sangat diluar nalar orang menyeruput kuah dengan sumpit.

Tantangan diterima, aku memesan ramen miso sedangkan Ari memesan ramen curry. Dilihat dari kekentalan kuah, ramen curry jauh lebih nikmat dibandingkan miso. Tapi kalau sudah perut lapar, nikmat tidaknya sudah tak terasa lagi. Yang penting makanan di depan mata langsung masuk mulut, namun sepertinya tak mudah. Karena beberapa kali sumpit lari dari kenyataan, enggan memasukkan makanan ke mulutku. Bukan karena takut dimakan juga, tapi karena dasar aku yang belum pandai memakai sumpit. Ari benar-benar tak bisa menahan tawa melihat makanan yang terjun bebas dari sumpit yang ku pegang. 

Sungguh sulit untuk dilupakan, banyak hal-hal baru yang pertama kali aku rasakan walaupun itu ketinggalan zaman kata orang. Namun apa salahnya bila hanya menyenangkan diri dari hiruk pikuk dunia. Pertanda baik semakin banyak yang mendekat, hubunganku dengan Maha Pencipta pun harus lekat.


Selalu Ada, Kejutan Tak Terduga

Ari memberi kabar bahwa Farah akan mencoba melamar pekerjaan di tanah Khatulistiwa. Aku sedikit ragu dengan rencananya karena restu orang tua, apalagi dia adalah anak bungsu perempuan. Jauh dari keluarga untuk pertama kalinya bukanlah hal yang mudah, namun sepertinya kesungguhan Farah sangat berbeda. Dia benar-benar ingin membalas kebaikan orang tua dan saudaranya. Mungkin rencananya itu hanya menjadi opsi kedua, dia pasti lebih memprioritaskan bekerja di rumah sendiri.

Beberapa hari kemudian, Ari memberi kabar bahwa Farah tidak diberi izin oleh Ibunya. Aku pun memberi pandangan yang sama seperti sebelumnya, takkan mudah melepas anak perempuan bungsu ke perantauan. Dia tampak pasrah seakan semua mimpinya harus dikubur hidup-hidup, padahal dua bulan yang lalu baru saja mereka bertemu. Memang sangat butuh kesabaran menahan rasa ingin jumpa saat berada dalam LDR ( Long Distance Relationship ), untuk mereka yang sudah menapaki level tertinggi dalam kasmaran. 

Aku terkadang merasa rendah diri di hadapan mereka, merasa selalu kalah dalam urusan asmara. Merasa sendiri ditengah keramaian, bukanlah hal yang baru dalam hidupku. Aku sadar, masih ada harapan yang tengah diperjuangkan, aku tak boleh menyerah. Sambil bernyanyi, aku berjalan santai menuju masjid untuk ibadah lalu makan gratis setelahnya. Tentunya dalam hati, kalau tidak mungkin akan viral seketika bernyanyi dengan lagu-lagu Westlife. 

Sampai di masjid, daftar putar musiknya pun diubah menjadi dzikir dalam hati. Bersuci lalu mengambil barisan terdepan untuk sejenak menenangkan diri sampai panggilan berkumandang. Lelah sekali ketika dunia ku kejar, tak ada habis-habisnya. Inilah cara terbaikku untuk mengistirahatkan raga dan mendinginkan jiwa. Memang benar, hanya dengan mengingat Tuhan hati menjadi tenang. 

Aku pun mengambil makan gratis yang telah disediakan oleh sukarelawan masjid. Memberikan makan dan layanan yang baik, semoga Tuhan membalas setiap kebaikan mereka. Sudah tak heran lagi jika Ari mengantri lebih cepat dariku, bahkan dia sudah terlebih dahulu menggelar karpet merah untukku. Duduk, berdoa, lalu menyantap makanan seperti biasanya, tak ada kejanggalan apapun. Semua berjalan seolah biasa sampai tangan seorang wanita berniat mengambil piring makan ku. Aku memandangnya dan ternyata...

Itu Farah, benar-benar Farah sahabat wanita pertamaku. Aku benar-benar tak menyangka dia ada di tanah Khatulistiwa ini. Aku sangat senang akhirnya bisa bertemu, setelah dua tahun lebih bersahabat jarak jauh. Aku sangat grogi menghabiskan makanan yang masih tersisa. Hanya apa yang aku pikirkan, itulah yang aku katakan ke Farah. Ari telah membuat kejutan yang luar biasa dengan memboyong Farah. Kami pun saling bertukar cerita, tak terkecuali tentang Aina sahabatnya.

Melihat Farah, aku merasa semakin dekat langkahku menuju Aina. Aina terasa semakin mungkin untuk aku dapatkan. Membawa Aina ke tanah Khatulistiwa, bisa jadi tujuan selanjutnya.


Selalu Ada, Disaat Suka Maupun Duka

Namun tujuan itu perlahan samar-samar dan semakin mendekati pudar. Semua terasa kelam begitu saja, melihat Aina pergi bersama seorang pria. Kecurigaan bermula dari cerita harian yang dibuat oleh akun kedua milik Aina yang lebih terbatas interaksinya. Usut punya usut, ternyata dari delapan pengikut hanya ada satu akun media sosial milik pria. Rasa penasaran semakin menjadi, aku pun bertanya kepada Farah. Farah hanya bilang itu adalah sepupunya dan itu terbukti benar.

Beberapa bulan setelah pernyataan Farah, Aina sedang menjalin kedekatan dengan seseorang yang berprofesi sebagai asisten guru. Karena sangat dekat, Farah dengan berat hati harus memberikan lampu merah untukku memperjuangkan Aina. Jujur pada awalnya, aku kecewa dengan Farah yang seakan menarik ucapannya ingin membantuku dekat dengan Aina. Namun aku sadar Farah memang ibarat saudara kandung Aina, dia mungkin tahu hampir segala hal tentangnya. Farah juga tidak ingin aku terlanjur datang menemuinya dengan rasa kecewa karena telah memiliki pasangan.

Semua yang ingin ku perjuangkan, harus tetap bertahan di tengah badai. Keputusan akhir telah dibuat, akhirnya ku sampaikan kepada Ari dengan hati yang lapang. Memutuskan untuk tetap mengejarnya dengan keyakinan, rasa ini takkan hilang begitu saja. Harapanku belum pupus, meskipun dukungan dan kemauannya membuka hati masih belum terlihat. Aku tidak ingin menyerah dengan segala kekurangan, biar waktu hapus semua ragu.

Aku mengadu, kepada Dia yang selalu ada, disaat suka maupun duka. Dialah Tuhan Yang Maha Esa, pemberi segala ujian dan nikmat. Aku tertunduk sambil meratapi hamparan sajadah bagaikan cermin itu, aku melihat diriku belum layak disebut hamba-Nya yang beriman. Selama ini aku terlalu mengejar cinta manusia, apakah saatnya hati ini berlabuh penuh kepada-Nya ? Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang ?
Melantunkan ayat-ayat suci membuatku lebih berdamai dengan diri sendiri, bahwa aku tak perlu melanjutkan kesedihan ini. Setelah benar-benar pulih, aku mendengar lagu-lagu dari Hanin Dhiya dan Westlife untuk mengiringi setiap huruf yang ku tuliskan. Aku harus kembali melanjutkan karya tulis diatas kepastian yang masih berkelit ini. Aku belum selesai atas kegagalan percintaan yang sering menimpaku.

Lagu dari Hanin Dhiya berjudul Sempat dan Westlife berjudul Flying Without Wings menjadi paling favorit untuk kudengarkan. Entah mengapa walaupun diiringi oleh musik melow, justru aku semakin lancar dalam menulis. Alunan nada rendah tidak membuatku lemah dan ide-ide pun tak patah. Aku harus tetap bahagia dengan kesendirian ini, meski dikelilingi oleh teman-teman yang sudah punya pasangan. Karena terkadang, yang punya pasangan pun belum tentu bahagia.

Selalu Ada, Luka Adalah Bahagia yang Tertunda

Perkataan atau ucapan adalah doa, itu memang benar. Aku mengalaminya setelah jauh bermimpi satu windu lamanya. Tanggal 29 Juli 2022, tepat pada hari ulang tahun sahabatku Ari, aku benar-benar memutuskan untuk bergabung dalam acara ulang tahun Haninours yang ke-delapan. Niat berbalut dalam tekad yang bulat aku sampaikan kepada Bang Pahu. Dia menyambut baik rencana ku dan akan memberitahukan lebih lanjut.

Rencana ini sendiri telah ku tutup rapat dari Ari. Karena dia benar-benar tak percaya bahwa aku bisa bertemu Hanin Dhiya. Dia ragu karena melihat Hanin Dhiya semakin terkenal di kancah internasional, bahkan gambarnya telah terpajang di New York Times Square, Amerika Serikat sebagai duta bulanan salah satu layanan musik digital. Keyakinannya sangat kuat hingga 99%, hanya keajaiban yang bisa mempertemukan aku dengan Hanin. Senyum dan tawa kecil menggelitik dalam hati, diam seribu bahasa atas rencana yang perlahan dirakit jadi nyata. 

Diam sejenak dari mimpi yang nyata, terpikirkan oleh ku untuk mengunjungi kakak di Depok. Selama ini aku belum pernah bertemu dengannya, hanya akhir-akhir ini saja sering berkomunikasi di sosial media. Namanya Kak Bella, telah menikah dan dikaruniai dua orang anak laki-laki. Pertemuan yang juga sangat dinantikan oleh ku selain bertemu Hanin, karena sama-sama untuk pertama kalinya.

Hal itulah yang dapat menjadi sampul pertemuanku dengan Hanin, karena akan menjadi kejutan yang luar biasa buat Ari. Dalam konferensi pers tiga kursi, telah dibahas hal ini bersama Ari dan Farah. Mereka juga memberi doa dan harap atas rencana ku bertemu Kak Bella. Memang ada beberapa sentilan dari Ari tentang Hanin, namun aku bilang semua itu hanya mimpi ( yang akan jadi nyata ).

Satu bulan setelahnya, kepastian acara ulang tahun Haninours disampaikan oleh Bang Pahu. Acara akan dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu, 17-18 Desember 2022 di puncak Bogor. Ini akan menjadi ketiga kalinya, aku kembali mandi dengan air paling dingin sepanjang hidupku. Sebelumya aku pernah menjajaki puncak Bogor ketika masa singkat perkuliahan, kurang lebih 4 tahun lalu. 

Suasana jelas pasti akan lebih berbeda, tentunya tak sabar melihat wajah teman-teman Haninours seluruh Indonesia. Bahkan satu per satu dari mereka telah lebih dulu kenal di sosial media. Salah satunya bernama Abi, Haninours asal Tangerang Banten. Dia banyak memberikanku informasi seputar Hanin Dhiya, bagaikan peta untuk mengetahui harus dari mana aku memulai dan mengakhirinya sampai tujuan. Seringkali juga dia membahas lagu-lagu yang telah diciptakan Hanin Dhiya.
Sampai karya ini ditulis, Hanin Dhiya telah meluncurkan tiga album sepanjang karir bermusiknya, yaitu Cerita Hanin Dhiya (2018), Jangan Sampai Pasrah (2021), dan Reinkarnasi (2023). Jelas merupakan pencapaian yang sangat luar biasa, padahal dia masih berusia 22 tahun. Dedikasi, kerja keras, dan konsistensi yang membuat Hanin Dhiya sesukses ini.

Setelah melalui berbagai drama untuk mendapatkan restu orang tua, akhirnya aku diizinkan untuk bertemu dengan Hanin. Tiket pesawat telah dipesan jauh sebelum acara dimulai, kenaikan harga di akhir tahun adalah pemicu utamanya. Pertemuan yang sangat dinanti sudah didepan mata, semua dana telah dialokasikan untuk bertemu Kakak dan Idola. Ini akan menjadi cerita yang sangat berharga, momen yang takkan pernah terlupa. 

Seminggu sebelum berangkat, aku mendapatkan informasi dari sosial media Haninours untuk memberikan satu buah tangan dibungkus koran. Nantinya, buah tangan itu akan dibagikan secara acak kepada Haninours lainnya sebagai kenang-kenangan. Sudah jelas dan pasti hadiah yang ku berikan berupa barang, karena lebih terasa kenangannya selama tidak hilang dan terus dijaga. 

Detik-detik keberangkatan semakin dekat, tak sabar rasanya kembali ke tanah Jawa. Kota Bogor sudah seperti rumah kedua untukku, tak menutup kemungkinan akan menjadi tempat tinggal di masa depan. Besok saatnya pergi, aku pun berpamitan dengan rekan-rekan kerja. Setelah pulang dari kerja sore, aku pun langsung membersihkan diri lalu tidur. Hanya empat jam saja, aku harus bangun untuk mempersiapkan dan mengecek ulang barang-barang yang akan dibawa. 

Jam enam pagi, aku telah dijemput oleh taksi online dan bergerak menuju bandara. Sesampainya disana aku disambut oleh adik ayah, Tante Rita yang membawa bingkisan untuk Pamanku. Kembali mengunjungi bandara setelah sekian lama sangatlah berbeda, protokol kesehatan masih harus ditegakkan walaupun telah terjadi kelonggaran. Tak ada lagi pengecekan suhu maupun status vaksinasi, aku hanya perlu menunjukkan kartu tanda penduduk untuk melewati boarding pass. Aku sempat bertahan tanpa arah di bandara, karena penerbangan ditunda kurang lebih satu jam. Sembari menunggu, aku pun memutar lagu-lagu dari Hanin Dhiya agar semakin semangat untuk mewujudkan mimpi.

Waktu terus berjalan, akhirnya aku pun masuk pesawat dan terbang menuju Jakarta. Sampai disana, aku harus menunggu kurang lebih satu jam untuk mendapatkan bus DAMRI tujuan Bogor. Kesempatan itu aku gunakan untuk shalat dan mengabari keluarga ku di Bogor. Setelah mengambil barang dari bagasi, aku harus berjalan melewati beberapa pintu keluar untuk sampai di terminal bus yang jaraknya kurang lebih 2 kilometer. 

Bus telah datang, aku pun bersiap untuk menempuh perjalanan menuju kota Hujan. Butuh waktu dua jam lebih untuk sampai ke tujuan, sangat dipahami karena padatnya lalu lintas Jakarta. Lagu-lagu Westlife pun jadi menu utama perjalanan. Beberapa lagu sempat numpang lewat, karena lelah bercampur kantuk yang tiba-tiba kumat. Bogor semakin dekat, aku pun sepenuhnya sadar dan mengabari kembali Paman dan Bibi ku yang telah menunggu di terminal bus Bogor. Sesampainya di terminal, aku disambut dengan bahasa rindu oleh mereka. Bahkan aku langsung diberikan sebungkus siomay, mereka tahu kalau aku lapar hehehe...

Selalu Ada, Idola Bagaikan Keluarga

Detik-detik pertemuan semakin dekat, namun tiba-tiba saja aku mendapatkan kabar bahwa Kak Bella tak bisa dikunjungi. Dia sedang berada di Bandung, menikmati waktu libur bersama suami dan anak-anak nya. Aku maklumi saja, karena dia sudah bilang jauh-jauh hari tak bisa janji. Kecewa pastinya, tapi masih ada tujuan yang tak kalah pentingnya. Menuju pertemuan pertama dengan Hanin Dhiya, aku selalu berdoa agar diberikan kemudahan dan kelapangan dalam berusaha. Besok jam 8 tepat, semua harus sudah berada di titik kumpul. Kondisi tubuh yang lelah setelah perjalanan, membuatku ingin segera tidur.

Setelah bermalam di rumah Paman, pagi harinya aku langsung tancap gas menuju stasiun kereta api Bogor. Stasiun Cilebut yang jadi titik kumpul teman-teman Haninours, hanya memakan waktu perjalanan 5-10 menit saja. Sesampainya disana, aku belum menemukan satupun dari mereka. Melihat jam tangan menunjukkan pukul 7, sepertinya aku terlalu bersemangat. Memperbarui informasi terus menerus, akhirnya aku bertemu dengan Maya dan Novi, Haninours Karawang, Jawa Barat. Bukan hanya saling kenal, kami juga saling berbagi gorengan yang mereka beli. 

Satu persatu Haninours mulai berdatangan. Aku masih agak malu untuk saling kenal, terkesan agak kaku. Namun semuanya berubah ketika Abi datang, semuanya terkesan elastis. Baik dalam dan luar jaringan, aku merasa asyik berbicara dengannya. Dia mengatakan bahwa kami punya frekuensi yang sama, namun hanya beda tempat tinggal. Bukan hanya itu, Abi juga memberikanku bocoran agar tidak grogi saat jumpa pertama dengan Hanin.

Angkot datang, kami pun bersiap untuk 
berangkat menuju puncak. Harus diakui, untuk masalah percintaan, lagu-lagu Hanin Dhiya berada di daftar teratas. Namun untuk masalah perjalanan seperti ini, lagu-lagu Westlife lebih pas. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam, aku tak sabar lagi untuk menciptakan momen terbaik ini. 
Setelah sampai di tempat, kami pun melakukan registrasi dan mengambil baju khusus acara yang telah dipesan sebelumnya. Disekitar penginapan, terdapat kolam renang dan lapangan bola berskala kecil.

Akhirnya setelah sekian lama berbalas pesan, Bang Pahu langsung menghampiri dan kami pun saling bersalaman. Senang rasanya bisa mengenal mereka dengan satu idola yang sama, Hanin Dhiya. Masuk ke area penginapan, aku melihat Ayah Hanin sedang sibuk dengan persiapan acara. Masih tak enakan ingin memanggil, aku hanya lewat saja dan bersiap ganti baju. Tak lama kemudian, aku keluar dari kamar dan benar-benar melihat Hanin secara langsung. Idola yang selama ini dilihat secara virtual, kini ada di depan mata.Ini seperti mimpi, tapi benar-benar sangat nyata. 

Makan siang telah siap, kami pun antri untuk mengambil makanan yang dihidangkan. Aku mencari tempat yang nyaman untuk makan, yaitu di teras samping penginapan. Bersama Haninours lainnya, kami menyantap makanan dengan nikmatnya. Masakan ala Mang Ojak sungguh lezat, serasa makan dirumah. Ditambah lagi saat sedang menyantap, Hanin lewat dan menyapa kami semua, seketika aku berhenti mengunyah. Tak berhenti aku menatapnya sampai wajahnya berpaling dari kami. 

Setelah istirahat, sholat, makan, acara pembukaan pun dimulai. Mulai dari ketua panitia Bang Sahrul Anam, Om Ian ( Ayah Hanin), dan presiden Haninours tercinta Om Catur memberi kata sambutan. Lalu dilanjutkan dengan sesi perkenalan, satu per satu Haninours naik ke atas panggung. Aku sangat terharu ketika aku memperkenalkan diri, mereka memberiku tepuk tangan. Aku merasakan bahwa Haninours bukan hanya sekedar komunitas atau perkumpulan fans belaka.

Acara dilanjutkan dengan bermain beberapa games berkelompok. Diantaranya permainan 3,6,9, mencari pasangan, memasukkan paku kedalam botol, dan mengisi air ke dalam gelas plastik menggunakan spons. Dikala asyik bermain, aku sesekali melihat Hanin yang memperhatikan kami dari sisi lapangan. Hujan yang mengguyur membuat permainan dialihkan ke dalam ruang utama penginapan. Permainan selesai, hasilnya kelompok kami tidak memenangkan apapun. Walaupun demikian, aku mulai tak canggung berkumpul dengan Haninours lainnya.

Momen yang di tunggu-tunggu akhirnya datang. Begitu panitia mengatakan bahwa acara selanjutnya sesi foto bersama Hanin, aku langsung bergegas menuju kamar mandi. Selesai membersihkan diri, aku langsung bersiap dekat bilik foto. Aku menunggu sambil mendengar obrolan receh dari anak-anak Haninours, perlahan rasa gugup mulai timbul. Hanin datang mengambil posisi di bilik foto, jantungku mulai berdetak tak beraturan. Aku sampai lupa siapa yang pertama mengambil foto, sepertinya bocoran yang Abi berikan tidak mempan.

Bang Pahu yang tahu aku benar-benar ingin bertemu Hanin, langsung menyuruhku untuk menghampirinya. Seketika jantungku berdegup kencang, karena Hanin yang tak berhenti menatap dan memberiku senyuman. Kami pun saling bersalaman dan Hanin menanyakan namaku. Karena sangat gugup, aku hanya menyebutkan namaku saja. Aku sampai lupa menyebutkan asal daerah, hingga tak kuat melihat wajah idolaku sendiri. Anak-anak Haninours yang lain tak berhenti bersorak melihat gelagat ku. Bahkan aku gemetar saat memberikan ponsel kepada juru kamera untuk mengambil foto. Gambar telah diambil, tak lupa juga aku memberikan cinderamata khas Khatulistiwa untuknya. 

Aku benar-benar sangat lega, akhirnya mimpiku telah terwujud setelah delapan tahun lamanya. Syukur terucap dalam doa-doaku, menyempatkan diri untuk ibadah sebelum acara puncak dimulai. Namun sepulangnya dari masjid, pintu gerbang penginapan terkunci. Aku menelepon Abi, namun tak diangkat karena tidak aktif. Selang beberapa menit, adiknya Hanin bernama Junov tak sengaja membuka pintu gerbang. Lantas aku pun masuk dan mengucapkan terimakasih padanya. Beruntung saja, kalau tidak aku bisa ketinggalan jauh dari sesi acara.

Ternyata tidak, acara belum sama sekali dimulai. Anak-anak Haninours telah duduk rapi dibawah panggung beralaskan karpet. Acara dibuka kembali dengan penampilan dari pemenang HGT ( Haninours Got Talent ), Adendi Haninours Sukabumi. Dia berhasil menyanyikan lagu berjudul Waktunya Sendiri ciptaan Hanin, dihadapannya secara langsung. Kepercayaan dirinya sangat tinggi, bahkan berhasil menggoyang panggung dengan lagu dangdutnya.

Acara dilanjutkan dengan penampilan Bang Timothy Sando dan Farrel Arie, pianis dan gitaris yang mengiringi Hanin bernyanyi. Setelah itu, Bang Sahrul Anam dan Hanin mengajak beberapa Haninours naik ke atas panggung untuk bernyanyi bersama. Tak disangka aku juga turut dipanggil karena datang jauh-jauh dari Kalimantan. Begitu Hanin tahu kalau aku dari Pontianak, decak kagumnya sampai membuatku sulit berkata-kata. 

Bagaimana tidak grogi, saat aku bangkit dari duduk hingga berjalan menuju panggung, Hanin terus memandangku. Bahkan saat menyampaikan kesan dan pesan, Hanin tak pernah berhenti senyum kepadaku. Mengalami grogi tingkat dewa, apapun yang ada dalam pikiran, itulah yang aku ucapkan. Sesederhana itu hingga membuatnya garing bagaikan kerupuk. Namun aku sudah merasakan bahwa Haninours bukan hanya komunitas, tapi keluarga baru untukku. Setelah momen luar biasa itu, semua berjalan sesuai skenario. 

Hanin menyanyikan semua lagu terbarunya, yang telah rilis per tanggal 17 Desember lalu. Ditambah dengan lagu-lagu andalannya, seperti Biar Waktu Hapus Sedihku, Suatu Saat Nanti, Kau Yang Sembunyi, dan Darling. Jeda antar lagu berlangsung, Hanin menanyakan lagu apa yang selanjutnya dia akan bawakan. Kisi-kisi dia utarakan, terlintas dalam benakku lagu yang telah lama tidak dia bawakan saat manggung, yaitu Terlambat Sudah. Aku sebutkan dengan lantang dan Hanin berkata, "Wahh lu nyontek ya ?". Seakan aku mencontek daftar lagu Hanin, padahal aku hanya menebak-nebak saja dan ternyata benar. Kebahagiaan yang tak tertakar bagiku.

Harus diakui kualitas suara Hanin Dhiya saat siaran langsung terdengar lebih baik dibandingkan rekaman studio, persis seperti Westlife. Improvisasi selalu berhasil dia mainkan untuk memberi warna dalam setiap lagi yang dinyanyikan. Punya suara yang gemilang dan piawai memainkan piano ternyata tidak membuatnya merasa seperti bintang. Dia sangat ramah dan dekat dengan Haninours, seperti tak ada sekat yang memisahkan. Beruntung sekali aku menjadi salah satu penggemar beratnya.

Setelah dua tahun, akhirnya sesi renungan malam kembali diadakan. Mengingat kembali siapa saja Haninours yang telah berpulang menjadi guncangan batin bagi kami. Diantara mereka yang berlinang air mata, aku turut merasakan pedihnya. Jiwaku tertampar, bahwa hidup ini tak ada yang abadi. Setelah larut dalam sedih, kami pun bernyanyi bersama. Lagu Sheila on 7 berjudul Sebuah Kisah Klasik dan Peterpan berjudul Semua Tentang Kita mengiringi malam keakraban kami. Saling bersalaman dan berpelukan menjadi penutup kesedihan kami.

Acara terakhir, kami saling bertukar buah tangan yang telah dibungkus koran. Aku mendapatkan sebuah cermin kecil, buah tangan dari Puput Octavia, Haninours Jakarta. Sedangkan buah tangan dariku didapat oleh Bang Sahrul Anam ketua panitia. Aku tertawa dalam hati ketika dia begitu sulit membuka buah tangan dariku. Sengaja aku membuat bungkusnya berlapis-lapis, agar berkesan bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan tidaklah mudah. Acara selesai, kami bersiap untuk istirahat karena masih ada agenda lainnya besok. 

Bangun dari tidur, aku melihat teman-teman lainnya masih terkapar. Ada yang di kasur, ada juga di lantai yang super dingin. Bagaimana tidak, dari telapak kaki saja bisa naik ke ubun-ubun karena sangat dingin. Abi ternyata sudah bangun juga, dia hanya tidur satu jam saja. Cepat sekali waktu berjalan, ternyata Hanin sudah pulang lebih dulu saat aku tidur. Sangat disayangkan, padahal aku masih ingin menambah koleksi foto bersamanya. 

Setelah shalat Shubuh, aku duduk di sofa teras penginapan sambil mendengarkan lagu. Minuman hangat telah tersedia, aku pun mengambil satu gelas kopi susu. Masuk kembali ke dalam penginapan, aku tak sengaja lewat di depan Bang Manyin alias Ryan Lewis. Nama samarannya cocok seperti pakar-pakar ternama, karena dia pun kerap kali membahas teori-teori konspirasi dalam forum lesehannya. 
Sebatang rokok dan segelas kopi jadi bagian dari penyampaian materinya, gelar profesor lawak Haninours sangat pantas disematkan.
Karena materi yang disampaikan sangat menarik, aku pun menyempatkan diri duduk dalam forum lesehan itu.

Hingga akhirnya bubar, aku pun mengajak Abi untuk mengambil foto di area halaman penginapan. Pemandangan puncak bukit tepat dibelakang penginapan tampak indah apabila masuk dalam galeri foto. Beberapa Haninours juga tak melewatkan kesempatan tersebut, agar kenangan indah tak begitu saja lewat. Untuk memulai hari Minggu yang cerah, ada baiknya diisi dengan pemanasan kecil seperti senam. Usut punya usut, Bang Manyin bukan hanya sekedar profesor lawak saja, ternyata dia juga merupakan instruktur senam lawak terbaik bagiku. Dia melakukan gerakan yang unik dari biasanya, sekaligus bisa menyesuaikan irama musik yang dimainkan. Sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata, intinya semua gerakan tubuhnya mengundang gelak tawa. 

Senam selesai, jadwal pulang semakin dekat. Ada yang pulang duluan, ada yang bersih-bersih dulu, ada yang duduk-duduk dulu, dan ada yang masih tidur juga. Untuk yang masih tidur mungkin harus diguyur air dingin puncak, barulah dia sadar tak karuan. Agar tidak terburu-buru, aku pun langsung mengambil jatah kamar mandi lebih awal. Barang-barang dikemas agar tak tinggal, kembali kepada realita kehidupan setelah pesta luar biasa semalam.

Sambil menunggu angkot yang menjemput, aku duduk sambil mendengarkan obrolan Om Ian, Om Catur dan Haninours lainnya. Salah satu topik pembicaraan yaitu mengenai proyek merayakan satu dekade Haninours tahun 2024 yang akan datang. Dengan nada bercanda, Om Ian rencananya akan mengadakan proyek itu selama satu pekan. Tidak dapat dibayangkan keseruannya apabila jadi, dua hari ini saja rasanya sudah sangat seru. Banyak yang berharap juga perayaan ulang tahun Haninours diadakan di daerahnya. 

Angkot pun datang, kami bersiap untuk berpisah. Om Ian dan Bunda Cici yang merupakan orang tua Hanin sangat peduli padaku. Mereka seperti menganggapku anak sendiri, begitu juga sebaliknya aku menganggap mereka keluarga dekatku. Mereka berpesan agar aku tetap semangat, hati-hati di jalan, dan semoga tak jera untuk hadir di acara Hanin. Lambaian tangan mereka seakan melepas pergi anak yang paling disayangi. Sampai jumpa Haninours, terima kasih telah menjadi bagian dari terwujudnya mimpi ini.

Selalu Ada, Kisah Balik Hanin Dhiya

Hanin Dhiya, dialah yang menjadi cinta kedua ku saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dia benar-benar membuatku tak merasa sendiri, disaat yang lain telah memiliki pasangan. Masih teringat jelas ketika dia menyanyikan lagu Perahu Kertas ciptaan Maudy Ayunda, saat berkompetisi di ajang pencarian bakat menyanyi. Dia jadi penyanyi pertama yang membuat bulu kudukku berdiri, mulai saat itulah aku jatuh cinta dengan Hanin karena suaranya.

Lagu-lagunya berhasil membuatku kuat mengarungi masa-masa SMK untuk tidak pacaran. Dia juga pernah terkenal saat menyanyikan ulang lagu Asal Kau Bahagia ciptaan Armada dan Akad ciptaan Payung Teduh, bahkan jumlah penontonnya menyaingi dan melampaui video musik resminya. Nama Hanin Dhiya melejit, meskipun sempat ada polemik soal lagu Akad yang dia bawakan. Namun dari polemik itulah, Hanin Dhiya belajar untuk menjadi musisi yang sesungguhnya. Lagu Darling dan Kau Yang Sembunyi ( 2017 ), adalah titik awal Hanin Dhiya menciptakan karya originalnya.

Satu tahun kemudian, Hanin Dhiya berhasil mengeluarkan album perdananya berjudul Cerita Hanin Dhiya pada 30 Maret 2018. Hal ini juga menepis anggapan bahwa Hanin hanya bisa membawa ulang lagu ciptaan musisi lain alias cover. Bahkan album ini berhasil mendapatkan predikat "platinum" oleh Asosiasi Industri Rekaman Indonesia karena meraih pendapatan satu miliar rupiah dalam sebulan semenjak rilis. Sebuah prestasi yang cukup membanggakan untuk sebuah album perdana.

Salah satu momen paling berkesan bagiku, yaitu saat Hanin Dhiya memantapkan hati dan dirinya untuk berhijab. Momen itu tak berselang lama setelah pandemi covid-19 mewabah di Indonesia, yaitu Mei 2020. Senang itu hal yang pasti, karena doaku selama ini telah dijabah Allah SWT. Syukur ku ucapkan, karena Allah telah memberikan hidayah kepada idolaku untuk menutup mahkota terindahnya. Meskipun masih belum terlihat syar'i, setidaknya Hanin telah berusaha menjaga dirinya. 

Jangan Sampai Pasrah menjadi judul untuk album kedua Hanin, diambil dari salah satu lagu yang ada didalamnya. Hanin Dhiya menggaet grup musik Sabyan untuk membuat lagu ini, yang bertemakan tentang perjuangan para tenaga kesehatan menangani pasien covid-19. Dalam album keduanya, Hanin Dhiya sudah mulai berani menunjukkan jati dirinya. Dia sama sekali tidak menggunakan lagu yang diaransemen ulang, hanya berkolaborasi dengan musisi lain untuk menyanyikan lagu yang diciptakan. Contoh selain Jangan Sampai Pasrah yaitu lagu Benar Cinta, kolaborasi Hanin Dhiya dengan Aldy Maldini.

Kini Hanin Dhiya sudah benar-benar mantap menciptakan lagu sendiri, tanpa kolaborasi dan aransemen ulang. Album berjudul Reinkarnasi mewakili suara hati Hanin Dhiya, bahwa dia telah terlahir kembali dengan jati diri bermusik sesungguhnya. Sekarang dia tengah sibuk mempromosikan album ketiganya ini lewat tur konser bertajuk Selebrasi Patah Hati. Berharap semoga suatu saat dia datang ke tanah Khatulistiwa.

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Last Hope for Last Love Jilid I : Asmara Di Tengah Pandemi

Last Hope for Last Love Jilid I : Asmara Di Tengah Pandemi Kata Pengantar Segala puji penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena ...